Sunday, February 03, 2008

Penyimpangan Elpiji di Bringin

Beringin
Program pembagian tabung elpiji 3 kilogram di Desa Tempuran, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang diduga terjadi penyimpangan. Aparat desa setempat disinyalir kuat menjual tabung elpiji yang seharusnya diperuntukan bagi warga yang berhak mendapatkannya secara gratis.
Kasus dugaan penyimpangan pelaksanaan program konversi energi ini terkuak setelah sejumlah warga mengetahui Kepala Desa, Karlin, beserta Sekretaris Desa Tempuran, Amin Iskandar, menjual tabung elpiji yang masih tersisa. Jumlah tabung yang dijual pun jumlahnya cukup banyak yakni mencapai lebih dari 50 tabung.
Saa’datun, warga Dusun Krajan, Desa Tempuran mengatakan dirinya mengetahui secara langsung kedua aparat desa tersebut menjual tabung elpiji tersebut. Ia pun mengaku telah membeli sekitar 10 tabung elpiji dari kedua oknum tersebut.
“Saya sudah peringatkan kepada pak Lurah (Kades-red) untuk tidak sembrono menjual tabung elpiji itu. Sebelum saya membeli saya ditawari lebih dulu, lalu saya melihat tabung-tabung tersebut mau dijual di luar desa. Dari pada dijual ke luar desa lebih baik saya beli,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Sabtu (2/2).
Sa’adatun mengaku ia membelinya seharga Rp 100.000 untuk tiap tabungnya, tanpa disertai kompor gas. Ia sendiri mengaku telah mendapat jatah tabung elpijij lengkap dengan kompor dan regulatornya. Sa’adatun membeli tabung tersebut, sekitar dua pekan lalu, karena dirinya bermaksud menjadi pangkalan elpiji. “Semua warga di desa ini mendapat jatah tabung elpiji, jumlahnya sekitar 640-an KK. Tapi masih ada satu warga di dusun tetangga yang belum mendapat jatah,” kata dia.
Lebih lanjut Sa’adatun mengungkapkan dalam pertemuan desa yang digelar Jumat malam kemarin, di hadapan para warga Kades mengaku bahwa dia dan Carik (Sekdes) mendapat bagian masing-masing 50 tabung elpiji dari program konversi tersebut. Saat ada salah seroang warga yang mempertanyakan kebenaran informasi tersebut dan berniat melaporkan kejadian tersebut ke anggota DPRD, Kades tersebut marah dan sedikit melakukan intimidasi.
”Saijan yang ragu dengan pernyataan Kadesnya justru di marah-marahin. Ia bahkan dipojokkan oleh hampir semua warga yang hadir dalam pertemuan tersebut,” tutur Sa’adatun.
Yang membuat Sa’adatun bertambah heran, pertemuan tersebut dihadiri oleh seluruh perangkat desa dan ada salah satu aparat dari Polsek Beringin. Dan tidak ada satupun dari mereka yang mempertanyakan dasar penjualan tabung elpiji tersebut. ”Itu pun karena warga sudah mengetahui akhirnya Kadesnya mengatakan bahwa dirinya dan carik mendapat jatah 50 tabung elpiji. Sebelumnya tidak diberi tahu,” tukasnya yang siap menjadi pelapor.
Terpisah, Ketua DPC PAN Bringin, Widodo, mengungkapkan hal yang sama. Ia mengaku mendapat laporan dari kadernya yang warga Desa Tempuran bahwa kepala desanya menjual tabung elpiji tersebut. Dari laporan warga, sambungnya, hasil dari penjualan tabung tersebut akan digunakan untuk membangun balaidesa. “Padahal dana untuk membangun balaidesa itu sudah ada alokasinya sendiri,” jelas dia.
Setidaknya ada tiga warga Tempuran yang melapor ke Widodo yakni Saijan, Sriyono dan Warsidi Santoso. Ia juga mengaku ragu dengan kebenaran dan validitas pendataan warga yang mendapat jatah tabung tersebut. | espos

No comments: